(Spinacia oleracea L.A)
Oleh : Rita Mawarni CH
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui air yang optimal diperlukan dan pada keasaman tanah yang berbeda untuk pertumbuhan maksimum dan produksi Spinacia oleracea LA.
Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap sedangkan desain perlakuan terdiri dari tiga faktor: Diperlukan Air (A) dengan 3 tingkat perlakuan : 300.400, dan 500 mm / musim, sedangkan Keasaman Tanah (D) dengan 4 tingkat perlakuan pH 5,5, 6,0, 6,5, dan 7,0. Data yang dikumpulkan adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun, luas daun (cm2), basah dan kering, berat tanaman (g), umur berbunga (days). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adalah bahwa : kebutuhan air hingga setara 500 mm/musim tanam memberikan pertumbuhan dan produksi tanaman Spinacia oleracea LA (peleng) yang lebih baik. Sedangkan Interaksi kebutuhan air (A) dan kemasaman tanah (pH) memperlihatkan semakin banyak air yang ditambahkan dan pH meningkat maka semakin banyak larutan hara yang diserap.
Kata kunci : Peleng, Diperlukan Air, Keasaman Tanah
A.Pendahuluan
Sayuran sangat penting dikonsumsi untuk kesehatan masyarakat. Nilai gizi makanan sehari-hari dapat diperbaiki karena sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, protein nabati dan serat.
Sayur biasanya digunakan untuk merujuk pada tunas, daun, buah dan akar tanaman yang lunak dan dapat digunakan secara utuh atau sebahagian, segar, mentah atau dimasak sebagai pelengkap pada makanan berpati dan daging. Kebanyakan sayuran ini adalah herbaseus (berbatang basah), biasanya dipanen bila tanaman segar dan kandungan airnya tinggi (William, 1993).
Banyak tanaman dipanen untuk memanfaatkan daun-daunnya, tanaman berdaun diartikan sebagai hijauan maupun potherb (Uga.edu, 2005).
Daun peleng (Spinacia oleraceae L.A) biasanya dimanfaat-kan sebagai sayuran hijau dan ditinjau dari kandungan gizinya, peleng banyak manfaatnya bagi kesehatan dan pertumbuhan badan terutama bagi anak-anak dan ibu yang sedang mengandung. Bagi orang Amerika dan Eropa dikenal sayuran mirip bayam yang disebut Spinach, tanaman ini berbeda dengan bayam yang ada di Indonesia. Beberapa petani di daerah Lembang, Jawa Barat telah berhasil menanam spinach yang mereka sebut bayam Jepang dan bayam Amerika (Bandini, 2004).
Peleng tanaman berumur pendek 40-50 hari dengan hasil sekitar 4-8 ton/ha. Peleng telah dibudidayakan selama 2000 tahun yang lalu di Iran, pengelolaannya dimulai selama peradaban Yunani dan Roma. Pemberian nama diperoleh dari daerah Persia “Ispanai” yang berarti “Tangan Hijau” yang kemudian menjadi Spanachia (Uga.edu, 2005).
Daun yang lembut dan bergizi, baik mentah maupun dimasak, diakui bernilai tambah bagi diet manusia, peleng mengandung dalam jumlah besar mineral dan vitamin, khusus vitamin A, kalsium, pospor, besi dan kalium, peleng juga mengandung protein tingkat tinggi. Berat peleng 91 % mengandung air, 3.2 g protein, 4.3 g karbohidrat dan 0.3 g lemak (Uga.edu, 2005).
Minat untuk tanaman ini melambung tinggi karena kelezatan peleng telah diakui di seluruh jagad, lembut bisa dimakan mentah dalam salad (lalap), bisa diawetkan, bisa dipasarkan dalam bentuk awetan maupun kalengan dan biasanya tidak terlalu diganggu oleh serangan hama karena ditanam dalam cuaca dingin dimana aktivitas serangga minimal (Leafforlife, 2005).
Menyukai tanah berdrainase baik dengan kandungan bahan organik yang tinggi, penting untuk mempertahankan tanah tetap lembab ketika bibit sedang berkecambah. Dengan sistem perakaran yang dangkal, peleng tumbuh baik pada kondisi lembab dengan aplikasi lahan dibanjiri maupun dengan disemprot, ada resiko dan tingkat penyakit karena banyak penyakit bisa tumbuh dalam kondisi lembab (Uga.edu, 2005).
Pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimal memerlukan penyediaan air yang optimal pula yaitu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Upaya optimalisasi beserta peningkatan efisiensi pemanfaatan air bagi tanaman menjadi semakin penting dengan mengingat air semakin langka dan mahal (Suyamto, 1998).
Dari survey yang telah dilakukan, diketahui bahwa tahun-tahun terakhir ini di Kabupaten Karo sudah dikenal atau berkembang tanaman peleng, tetapi masih banyak hal yang belum jelas dalam memproduksinya, peleng sayuran berumur pendek (35-50 hari) dengan produksi lebih dari 30 ton/ha.
Ada pengusaha yang berminat mengikat kontrak (menampung) dengan harga yang lumayan sekitar Rp.1000-6000/kg, juga tersedianya Cold-Storage disitinjak Sidikalang yang disewa dari Pemda Kabupaten Dairi untuk mengolah hasil dan memprosesnya hingga berbentuk makanan siap saji dalam kemasan plastik yang didinginkan sekitar minus 15-30 oC.
Ada petani di sekitar Brastagi yang sudah dapat meng-hasilkan dengan baik, namun tetangganya yang bersebelahan masih gagal, sedangkan di Kabupaten Dairi dengan keadaan lingkungan yang mirip dengan Brastagi masih saja gagal. Maka timbul pertanyaan hal apa yang menyebabkan ini terjadi, sehingga diperoleh dugaan yang timbul adalah keadaan hujan yang berhubungan dengan kebutuhan air, di mana diketahui peleng tidak suka terlalu banyak air tapi tidak kekurangan, kesediaan pH yang diinginkan (optimum 6.2-6.9), adanya serangan hama dengan dugaan terjadinya serangan hama malam atau mendung pada masa awal pertumbuhan.
Pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimal memerlukan penyediaan air yang optimal pula yaitu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Upaya optimalisasi beserta peningkatan efisiensi pemanfaatan air bagi tanaman menjadi semakin penting dengan mengingat air semakin langka dan mahal (Suyamto, 1998).
Air merupakan pelarut bagi unsur hara mineral pada saat diserap oleh akar maupun pada saat diangkut dari satu bagian sel kebagian lainya, antar sel, antar jaringan dan antar organ tanaman. Tanaman mampu menyerap hara mineral dari dalam tanah apabila potensi air akar lebih rendah dari potensi air larutan tanah. Pada sebagian besar proses metabolisme, air bertindak sebagai medium maupun pereaksi (Soedarsono, 1997).
Tanaman peleng peka terhadap keasaman tanah dengan pH optimum 6.2-6.9 (Uga.edu, 2005). Pada tanah yang ber-pH di atas atau di bawah kisaran tersebut, tanaman peleng sukar tumbuh, tanaman akan menunjukan pertumbuhan yang merana, tanaman akan mengalami gejala klorosis (warna daun menjadi putih kekuning-kuningan terutama pada daun-daun yang masih muda).
Pengaturan tingkat kemasaman tanah (pH potimum 6.2-6.9) dengan pengapuran, akibat pengapuran yang baik dan benar, bakteri dalam tanah yang semula tidak bekerja giat karena suasana tanahnya asam kini menjadi lebih aktif mengurai bahan organik menjadi mineral (hara) yang dibutuhkan tanaman. Keuntungan lain dari pengapuran, bisa membantu mempercepat proses pembusukan atau perombakan bahan organik dalam tanah, supaya bisa dimanfaatkan oleh tanaman.
Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisa kebutuhan air dan dosis kapur yang sesuai untuk meningkatkan produksi peleng.
2. Melihat kombinasi kebutuhan air dan tingkat kemasaman tanah terhadap pertumbuhan dan produksi peleng.
3. Mengetahui kebutuhan air dan dosis pengapuran yang sesuai terhadap pertumbuhan dan produksi peleng.
Hipotesis Penelitian
1. Ada perbedaan pengaruh kebutuhan air dan dosis kapur terhadap pertumbuhan dan produksi peleng.
2. Ada interaksi antara kebutuhan air dan dosis kapur untuk pertumbuhan dan produksi peleng.
B. METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik di Desa Pertapaan, Sigalingging, Kabupaten Dairi. Topografi datar dengan ketinggian tempat ± 1.400 meter di atas permukaan laut.
Bahan dan Alat
Benih Peleng hibrida Alrite, tanah lapisan atas (topsoil), polibag hitam ukuran 30 cm x 40 cm, pupuk (Urea, SP-36 dan KCL), Air, Insektisida Decis 2.4 Ec dan Fungisida Dithane M-45. Kayu, cangkul, meteran, gembor, timbangan elektrik, backer glass (1000 ml), oven, handsprayer, leaf area meter, pH meter, plastik, kantong plastik, plang perlakuan dan plang tanaman sampel, alat-alat tulis dan lain-lain.
Metode Penelitian
Rancangan lingkungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), sedangkan rancangan perlakuan adalah faktorial, yang terdiri atas dua faktor yang diteliti Kebutuhan Air (A) yakni: A1(300 mm/musim), A2 (400 mm/musim), A3 (500 mm/musim) dan tinkat kemasaman tanah (D): D0 (pH 5.5), D1 (pH 6.0), D2 (pH 6.5), D3 (pH 7.0)
Diperoleh 36 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi diulang sebanyak 3 kali. Setiap plot perlakuan berisi 12 polibag dengan jarak antar tanaman 20 cm x 20 cm.. Sampel tetap 4 tanaman/plot dan sampel destruksi setiap 7 hari sekali dengan 2 tanaman/plot.
Metode Analisis Data
Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. dengan model matematis adalah sebagai berikut:
Yijk = m + ri + aj + βk + (αβjk) + eijk,
Pelaksanaan Penelitian
Persiapan Lokasi Penelitian
Areal seluas 20 m x 20 m dibersihkan dari gulma dan sampah yang ada, tanah topsoil sebagai media tanam dari seluruh lokasi areal penelitian dikeruk sedalam 20 cm sekaligus digemburkan, dikumpulkan pada satu tempat dan diaduk merata kemudian dibagi pada tumpukan sesuai perlakuan. Penelitian ini dilakukan di dalam bangunan rumah plastik untuk menghindari masuknya air dan dikelilingi oleh scren untuk menghindari masuknya hama pengganggu.
Persiapan Media Tanam
Tumpukan tanah topsoil untuk media tanam diisikan kedalam polibag dan ditimbang untuk masing-masing polibag sebanyak 5 kg sampai kurang lebih 2 cm di bawah mulut polibag.
Penanaman Benih
Penanaman benih dilakukan dengan cara manual dengan menggali tanah yang berada dipolibag dengan kedalaman kurang lebih 4 cm dan setiap lubang ditanam 2 benih, kemudian benih ditutup tanah setipis mungkin.
Pemeliharaan Tanaman
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk N dan P2O5. N diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pertama 60 kg/ha pada saat penanaman dan kedua 60 kg/ha diberikan dalam 2 kali aplikasi 25 dan 30 hari setelah tanam. P2O5 diberikan saat penenaman yaitu 200 kg/ha. Pupuk dibenamkan dengan jarak 10 cm dari pangkal batang. Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan menggunakan Insektisida Decis 2.5 Ec dan Fungisida Dithane m-45 WP dengan interfal waktu 1 minggu sekali dengan dosis anjuran 2.5 cc/l air.
Penyisipan dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak normal, ini dilakukan pada saat tanaman berumur satu minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan mencabut gulma yang tumbuh di polibag. Pada saat itu sekaligus dilakukan penggemburan tanah.
Aplikasi Pemberian Air
Aplikasi pemberian air dilakukan saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam, perlakuan dilakukan saat pagi hari dengan interval waktu 2 hari sekali, untuk tiap polibag berdasarkan kebutuhan air pemberian yang terdiri dari 300, 400 dan 500 mm/musim, di mana diperoleh volume setelah dikonversikan yaitu 300 mm/musim (416 cc), 400 mm/musim (555 cc) dan 500 mm/musim (693 cc).
Aplikasi Pengaturan Tingkat Kemasaman
Perlakuan pengaturan tingkat kemasaman tanah dilakukan dengan cara pemberian kapur CaCo3 ketanah berdasarkan metode Curva Ca(OH)2 pada saat sebelum tanam.
Menurut Anonimus (2005) Banyak metode yang diguna-kan untuk menentukan kebutuhan kapur, diantaranya dengan metode Curva Ca(OH)2. Kebutuhan kapur dengan metode ini didasarkan kepada banyaknya kapur yang diperlukan untuk pH tanah tertentu yang diinginkan, curva yang terbentuk berdasarkan hubungan antara jumlah kapur yang diinginkan, curva yang terbentuk berdasarkan hubungan antara jumlah kapur yang dibutuhkan untuk luas lahan.
Ditimbang sebanyak 10 g tanah kering udara dan dimasukkan kedalam 6 buah botol kocok, lalu ditambahkan berturut-turut 0.00; 0.01; 0.02; 0.04; 0.08; 0.16 g Ca(OH)2 ke setiap botol dan ditambahi air sebanyak 25 ml. Dikocok botol tersebut selama 5-10 menit dan ditambahi 2 tetes Toluena, selanjutnya dibiarkan satu minggu. Setelah diinkubasi maka diukur pH tanah masing-masing perlakuan dengan pH meter dan dibuat kurva dari hasil pengukuran tersebut di mana pH sebagai sumbu vertikal dan jumlah Ca(OH)2 sebagai sumbu horizontal.
Dari hasil ini dapat ditentukan kebutuhan kapur untuk setiap nilai pH yang dikehendaki yaitu D0: pH 5.5; D1: pH 6.0; D2: pH 6.5 dan D3: pH 7.0
Peubah yang Diamati
Tinggi Tanaman (cm), Jumlah Daun (Helai), Luas Daun (cm2), Bobot Basah Tanaman (g), Bobot Kering Tanaman (g), Umur berbunga (hari).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman peleng merupakan tanaman yang sensitif terhadap kondisi perubahan iklim dan kondisi tanah, di mana tanaman peleng ini tidak semua dapat tumbuh normal di dataran tinggi dan semua jenis tanah, sehingga faktor pembatas untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman peleng masih mendapat perhatian khusus, sehingga hasil penelitian belum maksimal.
Penelitian ini dilakukan dalam polibag ukuran 5 kg dengan atap plastik dan dinding plastik jaring untuk mengontrol air hujan dan serangan hama, dan tanah yang digunakan adalah tanah top soil dari areal bukaan baru hutan sekunder yang mempunyai bahan organik mentah yang tinggi dan tekstur tanah berpasir. Pada penyiraman dilakukan setara dengan 500 mm/tahun dan kelihatan bahwa air belum merembes keluar polibag.
Tinggi Tanaman (cm)
Tabel 1. Uji Beda Rataan Tinggi Tanaman Peleng (cm) pada Interaksi Kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) Umur 15, 25, 30 dan 40 hst
Kombinasi
|
Tinggi Tanaman Peleng (cm)
pada Umur hst
|
Perlakuan
|
15
|
25
|
30
|
40
|
A1K0
|
3.08e
|
7.02g
|
8.72f
|
11.29f
|
A1K1
|
3.28de
|
8.25efg
|
10.47de
|
13.97e
|
A1K2
|
3.46cde
|
8.64cde
|
10.37de
|
15.52d
|
A1K3
|
3.60bcd
|
9.78bc
|
12.10bc
|
17.56bc
|
Rataan
|
3.36
|
8.42
|
10.42
|
14.59
|
A2K0
|
3.21de
|
8.48def
|
10.42de
|
15.50d
|
A2K1
|
3.66bcd
|
7.98efg
|
9.86def
|
17.59bc
|
A2K2
|
3.84bc
|
10.18ab
|
13.13ab
|
18.12bc
|
A2K3
|
3.95b
|
9.72bc
|
14.25a
|
18.42abc
|
Rataan
|
3.67
|
9.09
|
11.92
|
17.41
|
A3K0
|
3.25de
|
7.31ef
|
9.71ef
|
14.64de
|
A3K1
|
3.42cde
|
9.08cde
|
11.15cd
|
17.43c
|
A3K2
|
3.29de
|
9.38bcd
|
11.90bc
|
18.67ab
|
A3K3
|
4.60a
|
11.24a
|
14.22a
|
18.77a
|
Rataan
|
3.64
|
9.25
|
11.75
|
17.38
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan
Gambar 1.
Hubungan antara Tinggi Tanaman Peleng (cm) dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air Umur 15, 25, 30,dan 40 hst
Jumlah Daun (helai)
Tabel 2. Uji Beda Rataan Jumlah Daun Tanaman Peleng (helai) pada Interaksi Kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) Umur 40 hst
Kebthn Air (mm)
|
Tingkat Kemasaman Tanah (pH)
|
Rataan
|
D0
|
D1
|
D2
|
D3
|
A1
|
7.42f
|
7.42f
|
8.92ef
|
12.67cd
|
9.11
|
A2
|
9.25e
|
12.25cd
|
12.92cd
|
15.00a
|
12.36
|
A3
|
9.00ef
|
13.92d
|
13.92bc
|
14.42ef
|
12.82
|
Rataan
|
8.57
|
11.20
|
11.59
|
14.03
|
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom atau baris yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan.
Gambar 2.
Hubungan antara Jumlah Daun Tanaman Peleng (helai) dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air Umur 40 hst
Luas Daun (cm2)
Tabel 3. Uji Beda Rataan Luas Daun (cm2) Tanaman Peleng pada Interaksi Kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) Umur 19, 33 dan 40 hst
Kombinasi
|
Luas Daun (cm2) Tan Peleng
Umur hst
|
Perlakuan
|
19
|
33
|
40
|
|
A1D0
|
21.05f
|
29.03d
|
62.06d
| |
A1D1
|
22.64ef
|
29.24d
|
61.82d
| |
A1D2
|
25.85ef
|
38.06cd
|
74.50d
| |
A1D3
|
29.58de
|
48.87bc
|
92.48cd
| |
Rataan
|
24.78
|
36.30
|
72.72
|
|
A2D0
|
23.34ef
|
35.88cd
|
83.23d
| |
A2D1
|
34.35cd
|
52.35bc
|
122.72c
| |
A2D2
|
42.48b
|
59.29b
|
149.42b
| |
A2D3
|
41.63b
|
86.59a
|
155.46ab
| |
Rataan
|
35.45
|
58.53
|
127.71
|
|
A3D0
|
23.30ef
|
37.06cd
|
77.15d
| |
A3D1
|
40.58bc
|
78.87a
|
152.03b
| |
A3D2
|
42.36b
|
83.63a
|
145.01b
| |
A3D3
|
51.14a
|
78.48a
|
187.33a
| |
Rataan
|
39.35
|
69.51
|
140.38
|
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan
Gambar 3.
Hubungan antara Luas Daun (cm2) Tanaman Peleng dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air Umur 19, 33 dan 40 hst
Bobot Basah Tanaman (g)
Tabel 4. Uji Beda Rataan Bobot Basah (g) Tanaman Peleng pada Interaksi Kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) Umur 26, 33 dan 40 hst
Kombinasi
|
Bobot Segar (g) Tanaman Peleng pada Umur hst
|
Perlakuan
|
26
|
33
|
40
|
A1D0
|
0.65f
|
1.72fg
|
3.44g
|
A1D1
|
0.90de
|
2.36def
|
4.89ef
|
A1D2
|
0.83ef
|
1.92efg
|
4.65f
|
A1D3
|
1.03cde
|
2.79abcd
|
8.30b
|
Rataan
|
0.85
|
2.20
|
5.32
|
A2D0
|
0.97cde
|
1.59g
|
5.32ef
|
A2D1
|
1.18bc
|
2.97abc
|
7.19c
|
A2D2
|
1.54a
|
3.33a
|
8.80b
|
A2D3
|
1.38ab
|
3.40a
|
9.71a
|
Rataan
|
1.27
|
2.82
|
7.76
|
A3D0
|
0.97cde
|
3.42def
|
5.67de
|
A3D1
|
0.90de
|
2.14defg
|
6.75c
|
A3D2
|
1.15bcd
|
2.58cde
|
6.29cd
|
A3D3
|
1.44a
|
3.25ab
|
8.74b
|
Rataan
|
1.12
|
2.85
|
6.86
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan
Gambar 4.
Hubungan antara Bobot Basah (g) Tanaman Peleng dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air Umur 26, 33 dan 40 hst
Bobot Kering Tanaman (g)
Tabel 5. Uji Beda Rataan Bobot Kering (g) Tanaman Peleng pada Interaksi Kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) Umur 33 dan 40 hst
Kombinasi
|
Bobot Kering Tanaman Peleng (cm) pada Umur hst
|
Perlakuan
|
33
|
40
|
A1D0
|
0.08c
|
0.28g
|
A1D1
|
0.14b
|
0.37ef
|
A1D2
|
0.12b
|
0.31fg
|
A1D3
|
0.22a
|
0.52bc
|
Rataan
|
0.14
|
0.37
|
A2D0
|
0.12bc
|
0.46cd
|
A2D1
|
0.23a
|
0.55ab
|
A2D2
|
0.22a
|
0.62a
|
A2D3
|
0.23a
|
0.59ab
|
Rataan
|
0.20
|
0.56
|
A3D0
|
0.15b
|
0.42de
|
A3D1
|
0.20a
|
0.53b
|
A3D2
|
0.15b
|
0.55ab
|
A3D3
|
0.20a
|
0.53bc
|
Rataan
|
0.18
|
0.51
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan
Gambar 5.
Hubungan antara Bobot Kering (g) Tanaman Peleng dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air Umur 33 dan 40 hst
Umur Berbunga (hari)
Tabel 6. Uji Beda Rataan Umur Berbunga (hari) Tanaman Peleng pada Perlakuan kebutuhan Air dan Tingkat Kemasaman Tanah (pH)
Kebthn
Air
|
Tingkat Kemasaman Tanah (pH)
|
Rataan
|
D0
|
D1
|
D2
|
D3
|
A1
|
66.00cd
|
66.00cd
|
63.50d
|
68.33bc
|
65.96
|
A2
|
68.00bc
|
65.33cd
|
68.50bc
|
71.67a
|
68.38
|
A3
|
70.17ab
|
69.67ab
|
72.33a
|
70.83ab
|
70.75
|
Rataan
|
68.06
|
67.00
|
68.11
|
70.28
|
|
Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom atau baris yang sama, menunjukkan berbeda nyata/sangat nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan
Gambar 6.
Hubungan antara Umur Berbunga (hari) Tanaman Peleng dengan Tingkat Kemasaman Tanah (pH) yang Mendapat Perlakuan Kebutuhan Air
Tabel 7. Data Hari dan Curah Hujan Kabupaten Dairi Lima Tahun Terakhir
Sumber data: Dinas Pertanian Kabupaten dairi Tahun 2005
Interaksi antara kebutuhan air dan kemasaman tanah terdapat pada tinggi tanaman pada umur 15, 25, 30 dan 40 hst, jumlah daun hanya pada umur 40 hst, luas daun umur 19, 33 dan 40 hst, bobot basah 26, 33, 40 hst, bobot kering 33, 40 hst dan umur berbunga. Dari hasil umumnya kurva respon adalah linear positif, Hal ini dapat diterangkan karena pada tanah (pH) di atas 6.5. Pada kemasaman yang lebih tinggi umumnya unsur-unsur lebih mudah larut, sehingga dengan kecupukan jumlah air, maka penyerapan hara oleh tanaman juga meningkat sehingga pertumbuhan akan lebih baik pula.
Faktor kemasaman tanah umumnya memberi pengaruh meningkat baik linier maupun kuadratik positif dengan semakin tingginya kemasaman tanah. Hal ini dikarenakan pada pH yang semakin tinggi pertumbuhan akan semakin baik karena pengaruhnya pada ketersediaan atau kelarutan unsur hara, dan sesuai dengan sifat tanaman peleng yang menghendaki pH tanah antara 6.2-6.8.
Air merupakan bahan pelarut dan salah satu bagian penentu berlangsungnya proses fotosintesa dan asimilasi. Hal ini terlihat dari kurva respon umumnya linear positif yang berarti semakin tinggi tingkat kemasaman tanah dengan kapur yang diberikan, maka pertumbuhan tanaman semakin baik.
Bobot basah dan kering umur 26 dan 33 hst telah menunjukkan kurva respon kuadratik positif dan negatif yaitu perlakuan kebutuhan air 400 mm/musim (555 cc air) sampai 500 mm/musim (693 cc air) merupakan kebutuhan tanaman diikuti tingkat kemasaman tanah pH 6.5-7 merupakan faktor pendukung pertumbuhan dan produksi tanaman peleng. Melalui pemberiaan kapur dapat membantu percepatan proses pembusukan dan perombakan bahan organik pada jenis tanah di Desa Pertapaaan, Sigalingging.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pengaruh kebutuhan air hingga setara 500 mm/musim tanam memberikan pertumbuhan dan produksi tanaman peleng lebih baik.
2. Interaksi kebutuhan air (A) dan kemasaman tanah (pH) memperlihatkan semakin banyak air yang ditambahkan dan pH meningkat, maka semakin banyak larutan hara diserap.
3. Kesimpulan umum menunjukkan bahwa perlakuan yang diterapkan belum mencapai optimum, sehingga dapat dikatakan jumlah kebutuhan air, dosis pengapuran dapat ditingkatkan.
S a r a n
1. Penanaman peleng lebih kurang umur 40 hari di Desa Pertapaan Sigalingging Kabupaten Dairi, sebaiknya mem-perhatikan kondisi iklim, khususnya curah hujan. Jika curah hujan hanya 300-500 mm permusim tanam atau dan rata-rata 100 mm/bulan sebaiknya diberikan air tambahan (penyiraman) terutama pada bulan-bulan kering.
2. Bagi lahan dengan pH tanah rendah, perlu dilakukan pengapuran untuk menaikkan pH hingga sekitar 7.0.
E. DAFTAR PUSTAKA
William, C. N. Uzo, J. O. dan Peregrine, W. T. H. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Diterjemahkan oleh Soedharoedjian Ronoprawiro. Gadjah Mada University Press. Hal 1-165.
Bandini, Y dan Aziz, N. 2004. Bayam. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 1-15.
Suyamto, A. A. Rahmianna. dan Sunaryo, L. 1998. Peningkatan Efisiensi Air Pengairan. Prosiding Seminar Nasional dan Pertemuan Tahunan Komisariat Daerah Himpunan Ilmu Tanah Indonesia Tahun 1998, Buku 1. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia Komisariat Daerah Jawa Timur.
Soedarsono. 1997. Respon Fisiologi Tanaman Kakao terhadap Cekaman Air. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Volume 13 (2). Hal 96-107.
Anonimus. 2005. Penetapan Kebutuhan Kapur Berdasarkan Metode Curva Ca(OH)2. Penuntun Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Laboratorium Kimia/ Kesuburan. Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Hal 13.